Oleh: Redaksi
Di pesisir barat Pulau Halmahera, tepatnya di Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, berdiri sebuah desa kecil bernama Todahe. Desa ini menawarkan panorama alam yang memadukan perbukitan hijau, pegunungan, serta pantai yang indah dan tenang. Di balik keindahan alamnya, Todahe menyimpan sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Menurut cerita masyarakat, sebelum dikenal sebagai Desa Todahe, wilayah ini bernama Dere, yang dalam bahasa setempat berarti tanjung. Nama tersebut diberikan karena letak desa yang berada di sebuah tanjung yang menjorok ke laut.
Pada masa lampau, wilayah ini dikenal sebagai daerah yang sering dilanda konflik antarkelompok. Perselisihan dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari persaingan ilmu gaib yang pada masa itu masih dipercaya masyarakat, perebutan wilayah pesisir, hingga perebutan kekuasaan.
Konflik paling sering terjadi di dua pantai yang mengapit desa, yaitu Pantai Widar di sebelah selatan dan Pantai Dudadus di sebelah utara. Kedua pantai tersebut memiliki ombak yang relatif tenang sehingga menjadi tempat singgah kapal-kapal yang berlayar ketika musim gelombang tinggi.
Menurut kisah yang berkembang, para pendatang yang berlabuh di pantai tersebut kerap menjadi sasaran penyerangan. Peristiwa-peristiwa itulah yang kemudian membentuk citra Desa Dere sebagai wilayah yang penuh peperangan pada masa itu.
Dalam cerita rakyat disebutkan bahwa setiap kali seorang pejuang berhasil mengalahkan musuhnya, ia akan berteriak "Toni Dahe", yang diartikan sebagai "aku berhasil mengalahkan musuh." Ucapan tersebut lama-kelamaan menjadi sebutan bagi daerah itu hingga berubah pengucapan menjadi Todahe.
Versi lain dari asal-usul nama desa menyebutkan bahwa terdapat seorang kapitan bernama Dahe yang pertama kali menemukan salah satu pantai di wilayah tersebut. Saat menemukan pantai itu, ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Ternate, "Ngohi Todahe", yang berarti "akulah yang mendapatkannya." Dari ungkapan inilah masyarakat kemudian meyakini bahwa nama Todahe berasal.
Setelah desa terbentuk secara resmi, masyarakat mengangkat Waja Ceka sebagai kepala desa pertama.
Masyarakat Todahe diyakini berasal dari perpaduan penduduk Balisoan dan Sanana (Sula Patsei).
Menurut cerita turun-temurun, pada masa lalu masyarakat Sahu dikenal memiliki kemampuan berperang dan menguasai ilmu gaib. Ketika mendengar terjadinya peperangan di wilayah Sanana atau Sula Patsei, sekelompok pejuang dari Sahu berangkat menggunakan perahu layar yang dipimpin seorang tokoh dari Balisoan bernama Lewi.
Peperangan berlangsung sengit hingga akhirnya pasukan Sahu memperoleh kemenangan. Seusai peperangan, ketika hendak kembali ke kampung halaman, mereka menemukan dua orang anak bersaudara yang kedua orang tuanya menjadi korban perang.
Awalnya kedua anak tersebut hendak dibunuh. Namun keduanya memohon agar diizinkan ikut ke kampung orang Sahu. Permohonan itu dikabulkan.
Dalam perjalanan pulang, rombongan singgah di sebuah pantai untuk mencari air dan memasak. Kesempatan itu dimanfaatkan sang adik untuk melarikan diri, sedangkan kakaknya tetap kembali membawa air kepada rombongan.
Anak yang tetap bersama rombongan kemudian dibesarkan oleh masyarakat Sahu. Ia dilatih menjadi seorang pejuang hingga dewasa dan dikenal sebagai sosok pemberani. Tokoh itu bernama Loto.
Keberhasilan Loto memimpin berbagai peperangan membuatnya memperoleh penghargaan besar. Ia kemudian dinikahkan dengan putri kepala desa Balisoan yang bernama Cello, sesuai janji yang telah diberikan sebelumnya.
Setelah menikah, pasangan tersebut memperoleh kepercayaan untuk memilih tempat tinggal baru. Mereka kemudian menetap di wilayah Dere, yang kelak berkembang menjadi Desa Todahe seperti yang dikenal sekarang.
Di balik kisah peperangan yang melekat dalam sejarahnya, masyarakat Todahe pada masa lalu dikenal memiliki kehidupan sosial yang erat.
Walaupun belum mengenal agama sebagai sistem yang mengatur kehidupan masyarakat secara luas, hubungan antarwarga berlangsung harmonis. Mereka hidup dalam semangat kebersamaan, saling membantu, dan bergotong royong dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Tidak terdapat perbedaan mencolok antara kelompok kaya dan miskin. Hasil pekerjaan umumnya dinikmati bersama oleh anggota kelompok yang terlibat.
Masyarakat biasanya membentuk kelompok kerja yang beranggotakan sekitar 10 hingga 30 orang. Melalui sistem kerja sama tersebut, berbagai pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan hasilnya dibagi secara adil.
Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian, sementara sebagian lainnya menjadi nelayan yang memanfaatkan kekayaan laut di sekitar desa.
Secara geografis, bentuk permukiman Desa Todahe apabila dilihat dari atas menyerupai sebuah kapal yang menghadap ke laut, sebuah bentuk yang dianggap unik oleh masyarakat setempat.
Hingga kini, berbagai cerita mengenai asal-usul Desa Todahe tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah lokal. Meskipun sebagian besar kisah tersebut bersumber dari tradisi lisan dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, cerita-cerita tersebut menjadi identitas yang memperkuat jati diri masyarakat Todahe.
Keindahan alam yang dipadukan dengan sejarah panjang menjadikan Desa Todahe bukan sekadar sebuah permukiman di pesisir Halmahera Barat, melainkan sebuah desa yang menyimpan kekayaan budaya, nilai gotong royong, serta kisah-kisah masa lalu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan cerita lisan masyarakat Desa Todahe. Beberapa bagian merupakan legenda atau tradisi tutur yang diwariskan secara turun-temurun sehingga perlu dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal, bukan semata-mata catatan sejarah yang telah diverifikasi secara akademis.