ATURAN SEKOLAH

Bel istirahat baru saja berbunyi. Di sudut kelas, beberapa siswa sedang berbincang dengan wajah serius.

“Eh, kalian dengar pengumuman tadi pagi?” tanya Rian sambil meletakkan tasnya di meja.

“Yang tentang aturan baru itu?” jawab Lala.

“Iya,” kata Rian. “Mulai bulan depan, sekolah yang menentukan semua kegiatan siswa. Bahkan pilihan ekstrakurikuler juga akan diatur.”

Bima mengerutkan kening.
“Maksudnya kita nggak boleh pilih sendiri?”

“Katanya sih supaya lebih tertib,” jawab Lala. “Pak guru bilang sekolah lebih tahu mana yang baik untuk kita.”

Bima langsung menggeleng.
“Lho, tapi ini kan hidup kita juga. Masa semuanya harus diatur sekolah?”

Rian mencoba menenangkan.
“Ya mungkin maksudnya baik. Guru kan lebih berpengalaman.”

“Tapi tetap saja,” sahut Bima. “Kalau semuanya diatur, kapan kita belajar mengambil keputusan sendiri?”

Tiba-tiba Dinda yang sejak tadi diam ikut bicara.

“Aku sebenarnya paham sih kenapa sekolah bikin aturan,” katanya pelan. “Supaya kita disiplin.”

“Nah itu,” kata Rian cepat. “Sekolah kan juga bertanggung jawab terhadap kita.”

Bima masih terlihat tidak setuju.

“Disiplin itu penting,” katanya. “Tapi kalau semua keputusan dibuat sekolah, kita jadi seperti tidak punya pilihan.”

Lala menatap mereka satu per satu.

“Jadi menurut kalian gimana?” tanyanya.
“Apakah sekolah memang berhak mengatur semua keputusan siswa?”

Suasana mendadak hening.
Semua saling berpandangan.