BERTAHAN LALU MELEPASKAN

Telepon itu menjadi awal semuanya.


“Aku hancur…” suaranya pecah.

“Ada apa? Cerita pelan-pelan,” kataku.

“Fotoku disebarkan… dia ancam aku supaya balik.”


Aku langsung berhenti berjalan dan mencari tempat duduk di kursi ruang tamu. Suaranya di telepon membuat tanganku gemetar.


“Aku kirim beberapa… tapi jangan marah ya,” katanya terbata.

“Kirim saja,” kataku pelan. “Aku harus tahu apa yang terjadi.”


Beberapa detik kemudian ponselku bergetar bertubi-tubi. Tautan masuk satu per satu. Aku membuka yang pertama, lalu yang kedua. Dadaku terasa sesak, tapi aku berusaha tetap tenang.


“Itu semua disebarkan dia?” tanyaku.

“Iya… dia bilang kalau aku tidak balik, dia kirim lebih banyak,” suaranya makin kecil.


Aku menarik nafas panjang, menahan emosi.


“Kirim semua tautannya,” kataku lagi, lebih tegas.

“Aku takut kamu ikut malu… keluargamu lihat… temanmu lihat,” katanya.


Aku menatap layar ponsel beberapa detik sebelum menjawab.


“Aku lebih takut kamu sendirian menghadapi ini.”


Di ujung telepon ia terdiam. Hanya terdengar nafasnya yang masih bergetar.


“Kamu masih di situ?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawabku. “Aku tidak ke mana-mana. Sekarang kita selesaikan pelan-pelan.”


Malam itu aku tidak tidur. Aku membuka satu per satu unggahan, melaporkannya, dan terus mengabarinya.


“Sudah beberapa dihapus,” kataku.

“Terima kasih…” suaranya kecil.

“Kita hadapi bareng.”


Hari-hari setelahnya berat. Ia jarang keluar rumah. Aku sering datang hanya untuk duduk di ruang tamu.


“Aku ngerasa kotor,” katanya suatu sore.

Aku menggeleng.

“Kamu korban. Bukan pelaku.”


Suatu malam kondisinya memburuk.


“Aku capek… aku tidak kuat.”

Aku memegang tangannya.

“Kamu boleh capek. Tapi jangan berhenti hidup. Aku tetap di sini.”


Perlahan orang tuanya mulai melihat keseriusanku.


“Kamu tidak pergi?” tanya ayahnya.

“Saya tidak datang untuk pergi,” jawabku.


Hubungan kami membaik. Kami mulai bicara masa depan.


“Kita benar akan menikah?” ia bertanya.

“Iya. Aku sudah memilih.”


Kami melakukan foto persiapan pernikahan. Untuk pertama kalinya aku merasa semuanya akan baik.


Lalu perubahan kecil muncul.


Sepulang dari misa minggu pagi, kami makan di warung kecil.


“Pinjam ponselmu, aku mau foto,” kataku santai.


Ia langsung menegang.


“Nanti saja ya.”

“Kamu kenapa?”

“Enggak… lagi banyak chat.”

Aku tidak memaksa, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda.


Hari-hari berikutnya ia lebih sibuk. Balasan pesan makin singkat.


“Aku ganggu ya?” tanyaku suatu malam.

“Enggak, aku cuma capek.”


Aku mencoba percaya, tapi rasa tidak enak tidak hilang. Aku mengambil jarak beberapa hari. Anehnya, ia tidak mencariku.


Di situlah aku mulai takut.


Tanggal 25 Desember aku memutuskan memastikan semuanya. Pagi hari aku mengunggah foto lama agar orang mengira aku di luar kota. Siangnya aku datang ke rumahnya tanpa memberi tahu.


Rumah sepi. Pintu tidak terkunci.


Di ruang tamu tergantung seragam dinas coklat yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Jantungku berdegup keras.


Aku memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Saat berjalan ke arah kamar, aku mendengar suara percakapan pelan. Suara laki-laki.


Aku berhenti.


Aku kembali ke ruang tamu dan duduk menunggu.


Ketika orang tuanya pulang, mereka terkejut melihatku.


“Kamu dari kapan?” tanya ibunya.

“Baru,” jawabku pelan.


Aku berdiri.


“Terima kasih sudah menerima saya. Tapi saya tidak bisa melanjutkan. Dia sudah memilih orang lain.”


Ibunya menangis.

“Tolong jangan pergi…”

Aku menggeleng.

“Saya tidak marah. Saya hanya selesai.”


Aku pulang dengan perasaan sunyi.


Hari-hari setelahnya aneh. Tidak ada tangisan besar. Hanya sepi panjang.


Orang tuanya beberapa kali datang membawa makanan.


“Kami minta maaf,” kata ayahnya.

“Saya mengerti,” jawabku.


Aku belajar hidup tanpa rutinitas bersamanya.


Beberapa minggu kemudian ulang tahunku tiba. Ia datang membawa kue.


“Aku masih ingin memperbaiki,” katanya.

Aku menatapnya lama.

“Aku sudah memaafkan. Tapi aku tidak bisa kembali.”


Tak lama seorang gadis lain datang. Ia sudah lama mengenalku.


“Aku tidak buru-buru,” katanya. “Aku cuma ingin ada.”


Malam itu sahabat masa kecilku juga datang dan membuat kami tertawa lagi.


Namun sebelum pulang ia berkata,


“Aku ingin jujur. Aku mencintaimu.”


Aku kaget.


Keesokan harinya aku menemuinya.


“Kamu yakin ini bukan karena aku baru putus?”

Ia menggeleng.

“Aku sudah lama tahu kamu orang baik. Aku cuma menunggu waktumu.”


Bersamanya semuanya terasa tenang. Tidak ada rahasia. Tidak ada rasa takut.

Aku membuka hati perlahan.


Beberapa tahun kemudian kami menikah.


Suatu malam ia bertanya,

“Kalau dulu tidak terjadi semua itu, apa kamu akan bertemu aku?”


Aku tersenyum.

“Mungkin tidak.”