Suatu peristiwa kelam dan berharga dalam hidup saya terjadi saat saya memutuskan untuk berkuliah. Dengan segala keterbatasan dan hanya berbekal tekad, saya berani merantau ke Salatiga, Jawa Tengah, untuk mengejar mimpi di salah satu universitas swasta terbaik di sana — UKSW.
Sejak awal, orang tua dan keluarga saya melarang keras keinginan itu. Mereka tahu benar keadaan ekonomi kami, dan mereka takut saya tak akan sanggup bertahan. Tetapi saya begitu keras kepala. Dengan keyakinan dan semangat, saya tetap berangkat, meski tahu saya harus memulai segalanya sendirian. Tak ada uang saku, tak ada bantuan, tak ada jaminan. Satu-satunya modal saya hanyalah tabungan hasil bekerja selama SMA, cukup untuk biaya pendaftaran dan ongkos perjalanan ke Jawa.
Hari di mana saya menerima SK Rektor sebagai mahasiswa baru adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya. Namun di saat yang sama, saya tahu itu adalah hari terberat untuk ibu saya. Beliau memendam kegelisahan dan kesedihan mendalam, sebab beliau sadar betul betapa beratnya keadaan kami.
Waktu pun berlalu. Memasuki semester ketiga, saya terjepit masalah biaya. SPP menunggak dan saya nyaris menyerah. Dengan perasaan hancur, saya menelepon kampung halaman, hanya untuk dihadapkan pada kemarahan dan kekecewaan keluarga. Semua kata-kata mereka seakan mengingatkan saya pada keputusanku yang keras kepala untuk tetap berangkat dulu.
Namun saya tak mau kalah. Dengan hati bergetar, saya memberanikan diri menemui Wakil Rektor dan memohon agar bisa mendapat beasiswa. Bukan uang tunai, bukan belas kasihan, saya hanya minta solusi agar bisa melanjutkan studi. Tapi bukannya diterima hangat, saya malah dimarahi dan dianggap mahasiswa kurang tahu diri. Saya pulang dari ruangan beliau dalam keadaan terpukul.
Ketika menuruni tangga di lantai dua, tiba-tiba seorang petugas biro kemahasiswaan menghampiri saya dan bertanya, “Apa benar Anda Mas Gustap?” Dengan lirih saya menjawab, “Iya, saya.” Ia meminta saya ikut ke ruang biro kemahasiswaan. Di sana, saya terkejut dan tak kuasa menahan haru. Saya diminta menandatangani selembar kertas kuning—surat keterangan bahwa biaya kuliah saya telah lunas hingga wisuda.
Seketika air mata saya tumpah. Rasa syukur bercampur haru dan kelegaan membuat saya tak bisa berkata-kata. Dan tahukah Anda? Orang yang tadi memarahi saya di ruangan itu adalah sosok penyelamat saya. Di balik nada kerasnya, ia ternyata menanggung seluruh biaya kuliah saya. Di saat saya merasa begitu kecil dan tak berdaya, Tuhan mengirimnya untuk menjadi malaikat dalam hidup saya.
Hari itu, saya belajar bahwa kebaikan sering hadir dalam bentuk yang tak terduga dan bahwa perjuangan, betapa pun beratnya, pasti akan menemukan jalannya.