Menulis Artikel
Oleh: Gustap Elias
(Motivator Literasi Indonesia)
Oleh: Gustap Elias
(Motivator Literasi Indonesia)
Artikel adalah jenis tulisan nonfiksi yang bertujuan untuk memberikan informasi, pemikiran, atau pandangan tentang suatu topik tertentu. Artikel dapat dibuat dalam berbagai format, seperti artikel berita, artikel opini, artikel ilmiah, dan lain sebagainya.
Artikel biasanya ditulis dengan gaya bahasa yang informatif dan objektif. Artikel dapat mengandung fakta, statistik, atau informasi lain yang mendukung argumen atau pernyataan yang dibuat. Artikel juga dapat mengandung analisis, opini, atau pandangan dari penulis mengenai topik yang dibahas.
Tujuan dari artikel adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada pembaca, atau memperkenalkan suatu topik yang menarik bagi pembaca. Artikel dapat dimuat di media cetak, media online, atau di blog pribadi.
Artikel yang baik sebaiknya memiliki judul yang menarik, pendahuluan yang jelas, pembahasan yang terstruktur dan terorganisir dengan baik, serta kesimpulan yang memberikan gambaran umum tentang topik yang dibahas. Artikel juga sebaiknya ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dapat menjangkau target pembaca yang dituju.
Ada beberapa hal penting yang harus ada dalam artikel:
Judul yang menarik: Judul harus memberikan gambaran tentang topik yang dibahas dalam artikel dan menarik perhatian pembaca untuk membaca lebih lanjut.
Pengenalan atau pendahuluan: Pengenalan harus memberikan latar belakang tentang topik yang akan dibahas dalam artikel. Hal ini dapat mencakup konteks dan relevansi topik dengan kejadian atau tren saat ini.
Pembahasan utama: Pembahasan utama harus memberikan informasi dan analisis yang mendalam tentang topik yang dibahas. Pembahasan ini dapat mencakup penjelasan tentang masalah, argumen yang berbeda, atau solusi yang disarankan.
Contoh dan bukti: Artikel dapat diperkuat dengan contoh atau bukti yang mendukung argumen atau pendapat yang disampaikan dalam artikel.
Kutipan dan sumber: Artikel harus mengutip sumber yang relevan dan dapat dipercaya untuk memberikan dukungan atau memberikan pandangan yang berbeda pada topik yang dibahas.
Kesimpulan atau rangkuman: Artikel harus diakhiri dengan kesimpulan atau rangkuman yang mengulang kembali poin-poin penting yang telah dibahas dalam artikel. Hal ini dapat membantu membantu pembaca untuk memahami inti dari artikel.
Gaya penulisan: Artikel harus ditulis dengan gaya bahasa yang sesuai dan mudah dipahami oleh pembaca. Penulis juga harus memperhatikan penggunaan tata bahasa, ejaan, dan tanda baca yang benar dan konsisten.
Target pembaca: Artikel harus ditulis dengan mempertimbangkan target pembaca yang dituju, termasuk gaya bahasa dan level kesulitan pembahasan. Hal ini dapat membantu menarik minat pembaca dan meningkatkan efektivitas komunikasi informasi dalam artikel.
Berikut adalah beberapa langkah cara menulis artikel:
Tentukan topik: Tentukan topik yang ingin Anda bahas dalam artikel. Pilih topik yang menarik dan relevan dengan target pembaca Anda.
Kumpulkan informasi: Kumpulkan informasi tentang topik yang Anda pilih. Anda dapat mencari informasi dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, artikel, atau situs web. Pastikan sumber informasi yang Anda gunakan terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
Buat outline: Buat outline atau kerangka artikel yang akan Anda tulis. Rencanakan isi artikel dengan membaginya menjadi bagian-bagian yang jelas dan terstruktur. Outline dapat membantu Anda memastikan bahwa artikel Anda memiliki alur yang baik dan mengalir dengan baik.
Tulis pengenalan: Tulis pengenalan atau pendahuluan yang menarik dan memberikan latar belakang tentang topik yang akan Anda bahas dalam artikel.
Tulis pembahasan utama: Tulis pembahasan utama artikel dengan jelas dan terstruktur sesuai dengan kerangka yang telah Anda buat. Pastikan informasi yang Anda sampaikan mudah dipahami dan relevan dengan topik yang dibahas.
Gunakan contoh dan bukti: Untuk memperkuat argumen Anda, gunakan contoh dan bukti yang mendukung pernyataan Anda. Berikan contoh dan bukti yang konkret dan relevan.
Gunakan kutipan dan sumber: Jika memungkinkan, gunakan kutipan dan sumber yang relevan untuk memberikan dukungan atau menunjukkan pandangan yang berbeda pada topik yang Anda bahas.
Tulis kesimpulan atau rangkuman: Tulis kesimpulan atau rangkuman yang mengulang kembali poin-poin penting yang telah Anda bahas dalam artikel. Pastikan kesimpulan atau rangkuman dapat memberikan gambaran yang jelas tentang topik yang Anda bahas.
Edit dan perbaiki artikel: Setelah menulis artikel, edit dan perbaiki tulisan Anda. Pastikan artikel Anda mudah dipahami, terstruktur dengan baik, dan bebas dari kesalahan tata bahasa, ejaan, atau tanda baca.
Publikasikan artikel: Setelah memastikan artikel Anda baik, publikasikan artikel Anda di media yang sesuai dan dapat dijangkau oleh target pembaca Anda. Pastikan untuk mempromosikan artikel Anda agar dapat dikenal oleh lebih banyak orang.
Metode Menulis Artikel
Mind Mapping: Gunakan teknik mind mapping untuk membantu Anda mengumpulkan ide atau gagasan yang berkaitan dengan topik yang akan Anda bahas. Caranya, gambarkan topik utama di tengah kertas, lalu tambahkan cabang-cabang yang terkait dengan topik tersebut.
Jurnalisme Wawancara: Jika artikel Anda membutuhkan informasi dari sumber lain, lakukan wawancara dengan narasumber yang relevan. Siapkan daftar pertanyaan terkait topik yang akan Anda bahas dan pastikan narasumber yang Anda wawancarai dapat memberikan informasi yang Anda butuhkan.
Free Writing: Teknik free writing dapat membantu Anda mengatasi kebuntuan dalam menulis artikel. Caranya, tuliskan semua ide atau gagasan yang terlintas dalam pikiran Anda terkait dengan topik yang akan Anda bahas tanpa khawatir tentang tata bahasa atau struktur.
Reverse Outlining: Gunakan teknik reverse outlining untuk memastikan struktur artikel Anda sudah teratur. Setelah menulis artikel, buat daftar poin utama dalam artikel, lalu periksa apakah poin-poin tersebut telah terorganisir dengan baik dan terhubung dengan baik.
Peer Review: Dapatkan masukan dari rekan atau teman yang dapat memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap artikel Anda. Hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas artikel Anda.
Research-based Writing: Jika artikel Anda membutuhkan penelitian, pastikan Anda melakukan penelitian yang cukup terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Draft and Edit: Tulislah draf artikel terlebih dahulu, kemudian revisi dan edit artikel Anda untuk memastikan tulisan Anda mudah dipahami, terorganisir dengan baik, dan bebas dari kesalahan tata bahasa dan ejaan.
Berikut ini adalah contoh artikel dengan tema Merdeka Belajar. Setelah itu buatlah cabang-cabang mulai dari membuat rasionalitas (Kondisi Ideal), realita (Kondisi Di Lapangan), harapan penulis, isi/pembahasan, aktivitas, atau metode yang diterapkan, tantangan, dan terakhir adalah penutup/simpulan (Seberapa Efektif metode yang diterapkan tersebut?)
Tema: Merdeka Belajar
Sub Tema: Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembuka (Alasan Memilih metode atau Judul)
Rasionalitas (Kondisi Ideal)
Pendidikan merupakan media atau sarana membentuk generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang baik. Melalui pendidikan jugalah tujuan dan harapan untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dapat tercapai. Pendidikan menjadi mesin penggerak kebudayaan yang mendorong terjadinya, melahirkan hal-hal yang inovatif, kreatif serta mencetak generasi yang mampu membawa perubahan menuju hal yang lebih baik dari generasi ke generasi.
“Dalam Filosofi Ki Hadjar Dewantara (KHD). Menjelaskan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.” KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD menggambarkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta “tangan dingin” pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang “pamong” dapat memberikan “tuntunan” agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.
Pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru melihat pembelajaran dari berbagai perspektif, mulai dari memperhatikan profil pembelajaran yang mengharuskan pendidik mencurahkan perhatian dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Melihat kesiapan belajar yang dapat dilihat dalam merespons belajarnya berdasarkan perbedaan, serta melihat minat belajar. Ketika guru terus belajar tentang keberagaman peserta didiknya, merefleksikan kekurangan yang ada dalam dirinya, dan menjadikannya sebagai dasar perubahan secara terus menerus, maka pembelajaran yang profesional, efisien, dan efektif akan terwujud.
Realita (Kondisi Di Lapangan
Pembelajaran yang masih berfokus pada tuntutan kurikulum dan diikuti oleh semua peserta didik yang berbeda bakat, minat, dan potensinya. Semua murid dituntut untuk menguasai semua pelajaran. Jika terdapat 3 mata pelajaran dari 15 mata pelajaran, siswa sudah dinyatakan gagal bahkan terancam tidak naik kelas. Masa depan peserta didik hancur hanya karena 3 mata pelajaran yang tidak tuntas, sementara masih tersisa 12 mata pelajaran yang memenuhi KKM. Menjadi tanda tanya besar, bukankah setiap orang bisa sukses dengan caranya sendiri? Singa yang tidak bisa beterbangan seperti burung, bisa hidup dengan kemampuannya berburu. Burung yang tidak bisa berenang seperti ikan, bisa menangkap ikan yang pandai berenang.
Peserta didik diikat dalam kebijakan yang belum tentu itu memberikan dampak positif bagi peserta didik itu sendiri. Guru seolah-olah menjadi kunci sukses peserta didik. Harapan peserta didik dan tujuan pendidikan nasional yang sudah dibuat dengan begitu indah terabaikan begitu saja. Dalam membuat program pembelajaran, guru kurang memperhatikan kesiapan belajar, minat, dan bakat peserta didik yang heterogen. Lantas, apakah guru sedang melakukan kesalahan? Tentu kasus ini tidak bisa dilimpahkan sebagai kesalahan dari guru saja. Karena adanya linearitas dalam Sistem Pendidikan Nasional, dimana tingkat satuan pendidikan sebelumnya harus bisa menjadi landasan atau dasar yang kuat untuk menyiapkan peserta didik memasuki tingkat satuan pendidikan selanjutnya, jika pada pendidikan sebelum tidak dibekali sesuai dengan tuntutan pada tingkat satuan pendidikan selanjutnya, maka tentu peserta didik tidak siap. Ketidaksiapan ini dapat mengancam psikologi dari peserta didik itu sendiri yang pada akhirnya mengganggu prestasi belajar, hilangnya konsentrasi belajar bahkan hilangnya motivasi belajar.
Dengan hadirnya sistem pendidikan baru, yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, yakni Kurikulum merdeka belajar untuk menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Pokok-pokok kebijakan Kemendikbud RI tertuang dalam paparan Mendikbud RI di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, Jakarta, pada 12 Desember 2019. Ada empat pokok kebijakan baru Kemendikbud RI, yaitu:
Ujian Nasional (UN) akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. Berbeda dengan UN yang dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan, asesmen ini akan dilaksanakan di kelas 4, 8, dan 11. Hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan ke sekolah. Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Nadiem Makarim, RPP cukup dibuat satu halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan kompetensi.
Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas (tidak termasuk daerah 3T). Bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPDB. Pemerintah daerah diberikan kewenangan secara teknis untuk menentukan daerah zonasi ini.
Dalam kurikulum merdeka ini, sistem penilaian berdasarkan kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, dan survei karakter. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan beserta memahami konsep di baliknya. Untuk kemampuan numerasi, yang dinilai bukan pelajaran matematika, tetapi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menerapkan konsep numerik dalam kehidupan nyata.
Harapan Penulis .. (Apa yang dilakukan untuk menuju kondisi ideal)
Bertolak dari sistem pendidikan dalam kurikulum baru yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim, maka sudah seharusnya peserta didik diberi kebebasan atau kemerdekaan dalam belajar, namun tetap dalam tuntunan dan arahan dari pendidik atau guru agar peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Pendidikan seyogyanya sejalan dengan filsafat pendidikan K.H.D tentang pendidikan yang berhamba pada peserta didik. Pendidikan yang memerdekakan menurut kodrat peserta didik. Dengan demikian diharapkan adanya perubahan pada diri peserta didik menjadi pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi persoalan serta dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial di masyarakat.
Untuk mencapai pendidikan yang memerdekakan, maka pembelajaran berdiferensiasi dapat digunakan sebagai salah satu jawaban karena pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan berdasarkan kondisi awal peserta didik, bukan berdasarkan apa yang harus dicapai peserta didik. Dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami secara mendalam peserta didiknya, baik dalam hal kesiapan belajar, minat, maupun gaya atau profil belajarnya.
Isi/Pembahasan (Kajian Pustaka, Aktivitas, dan Tantangan)
Kajian Pustaka
Konsep pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu jawaban bagaimana kita memberdayakan peserta didik untuk menggali semua potensi yang dimiliki sebagai kodrat zaman dan kodrat alam.
Tomlinson dan Eidson (2003) menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada jenjang sekolah dasar dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang secara proaktif melibatkan peserta didik selama prosesnya, serta memandang kelas-kelas sekolah dasar sebagai kelas yang memadukan berbagai kesiapan, minat, dan bakat belajar peserta didik.
Guna lebih memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi, Tomlinson (2000) menyatakan ada empat karakteristik utama pembelajaran berdiferensiasi yang efektif, yaitu:
Pembelajaran merupakan konsep dan prinsip memberikan dorongan.
Penilaian berkelanjutan terhadap kesiapan dan perkembangan belajar peserta didik dipadukan ke dalam kurikulum.
Digunakannya pengelompokan secara fleksibel dan konsisten.
Peserta didik secara aktif bereksplorasi di bawah bimbingan dan arahan guru.
Berdasarkan karakteristik pembelajaran berdiferensiasi di atas, pembelajaran literasi hendaknya dilaksanakan berdasarkan kondisi awal peserta didik, bukan berdasarkan apa yang harus dicapai peserta didik. Dalam merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memahami secara mendalam peserta didiknya, baik dalam hal kesiapan belajar, minat, maupun gaya atau profil belajarnya. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi sebagai berikut.
Berpusat pada peserta didik; Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Artinya, pembelajaran direncanakan dengan cermat dan strategis dengan berdasar pada upaya memahami peserta didik secara utuh, serta menempatkan gaya, intelegensi, kemampuan awal, dan berbagai cara belajar peserta didik sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran (Gregory dan Chapman, 2002: 35).
Berpusat pada kurikulum; Pembelajaran berdiferensiasi tidak mengubah konsep dan tujuan kurikulum. Pembelajaran ini lebih menekankan kreativitas dalam menyelaraskan perangkat pembelajaran.
Diferensiasi materi pembelajaran; Diferensiasi materi pembelajaran berarti materi pembelajaran yang diberikan tidak bersifat sama rata untuk semua peserta didik. Oleh sebab itu, guru harus mampu menyeleksi materi pembelajaran sesuai dengan minat, pengetahuan awal, dan gaya belajar peserta didik.
Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru menggunakan: (a) beragam cara agar peserta didik dapat mengeksplorasi isi kurikulum, (b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga peserta didik dapat mengerti dan memiliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana peserta didik dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1986 dan Field, 1995 dalam Onrizal (1980). Namun pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh peserta didik dan melakukan penyesuaian untuk peserta didik berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan peserta didik berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan permainan sebagai pengayaan. Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih banyak tugas, misalnya soal matematika, pada peserta didik yang telah menguasai materi pelajaran tersebut. Sebaliknya, pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh empat karakteristik umum sebagai berikut.
Pembelajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok. Dalam hal ini, semua peserta didik mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara seperti ini, semua peserta didik, termasuk peserta didik yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, peserta didik berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih menekankan peserta didik untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghafal serpihan-serpihan informasi. Pengajaran berbasis konsep dan prinsip mendorong guru untuk memberikan beragam pilihan dalam belajar.
Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar peserta didik di akomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua peserta didik memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat peserta didik dengan memberikan dukungan bila peserta didik membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi peserta didik terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.
Ada pengelompokan peserta didik secara fleksibel. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, peserta didik berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan peserta didik, minat, gaya belajar peserta didik maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide baru.
Peserta didik menjadi penjelajah aktif (active explorer). Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena berbagai macam ragam kegiatan dapat terjadi
secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu tujuan ataupun upaya guru untuk menanggapi perbedaan di antara peserta didik di kelas. Setiap kali seorang guru menjangkau individu atau kelompok kecil untuk memvariasikan pengajarannya dan menciptakan pengalaman belajar terbaik.
Guru dapat membedakan setidaknya empat elemen kelas berdasarkan kesiapan, minat, atau profil pembelajaran peserta didik di antaranya.
Konten–Apa yang perlu dipelajari peserta didik atau bagaimana peserta didik akan mendapatkan akses ke informasi;
Proses–Kegiatan di mana peserta didik terlibat untuk memahami atau menguasai konten;
Produk–Proyek tepat yang meminta peserta didik untuk berlatih, menerapkan, dan memperluas apa yang telah dipelajari dalam sebuah unit; dan
Lingkungan Belajar–Cara kerja dan perasaan ruang kelas.
Aktivitas
Dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, kita diajak untuk mengingat kembali satu persatu keberadaan dan karakter peserta didik yang kita ajarkan. Seperti apakah karakteristik setiap peserta didik yang kita hadapi? Apa saja kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri peserta didik? Bagaimana keragaman gaya belajar peserta didik? Apa minat peserta didik? Adakah peserta didik yang pengetahuannya lebih menonjol daripada peserta didik lainnya? Adakah peserta didik yang sebaliknya? Adakah yang sangat baik dalam belajar kelompok? Adakah yang justru lebih menyukai belajar secara individu? Adakah peserta didik yang memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik? Adakah peserta didik yang sebaliknya?
Cobalah merenungkan semuanya itu. Kita akan melihat ada banyak hal yang sering kita jumpai keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Tentunya dengan karakteristik yang beragam itu, mempengaruhi cara peserta didik menyelesaikan suatu permasalahan yang meski relatif sama. Oleh karena itu pendekatan berdiferensiasi sangat baik untuk diterapkan dalam pembelajaran untuk memenuhi tuntutan peserta didik yang sangat beragam itu.
Bentuk-Bentuk Diferensiasi dalam Pembelajaran
Choice Boards, yakni papan pilihan. Strategi ini digunakan untuk memajang dan mendemonstrasikan semua karya peserta didik.
Pusat belajar, yakni penyediaan pusat-pusat kegiatan di kelas dan sekolah. Aktivitas pusat kegiatan dilakukan berdasarkan kesiapan, minat dan preferensi belajar peserta didik.
Kontrak belajar, guru dan peserta didik membuat perjanjian tertulis tentang tugas yang harus diselesaikan. Perjanjian tersebut mencakup tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian. Kontrak tersebut ditulis dalam bahasa yang ramah peserta didik.
RAFT, singkatan dari Role, Audience, Format, Topic. Judul-judul ini ditulis di bagian atas kisi dan sejumlah pilihan dibuat. Peserta didik memilih opsi atau guru memilihkan untuk mereka. Peserta didik membaca kolom untuk mempelajari peran yang akan mereka asumsikan, audiensi yang akan mereka bahas, format di mana mereka akan melakukan pekerjaan, dan topik yang akan mereka eksplorasi. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat berperan sebagai tokoh sejarah yang berbicara kepada audiens pada era tertentu. peserta didik mungkin mengembangkan pidato atau esai tentang topik yang relevan dengan topik itu dalam sejarah.
Tiering, yakni pemberian tugas secara berjenjang yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan peserta didik. Guru dapat memilih tugas setelah melakukan asesmen. Tugas tersebut harus mengandung unsur rasa memiliki, menarik, menantang bagi peserta didik. Tiering ini bisa diberikan dalam mata pelajaran matematika.
Bentuk-bentuk diferensiasi dalam pembelajaran tersebut memberikan pilihan bagi guru untuk mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya dengan melalui berbagai analisis kebutuhan belajar peserta didik yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu dengan melihat profil belajarnya. Seperti kita ketahui bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dan tidak semua peserta didik menyukai atau menguasai bidang tertentu. Oleh karena itu, guru sebagai seorang pengajar yang berkompeten harus memiliki kreativitas dan juga persiapan yang baik untuk dapat mengakomodasi semua tipe belajar peserta didik, seperti peserta didik yang memiliki tipe belajar visual cenderung menyukai penjelasan dari guru yang berupa video dan gambar bergerak atau berwarna, dan lebih menyukai membuat peta konsep daripada harus mendengarkan lebih banyak. Hal tersebut sangat menarik bagi peserta didik visual, jika mereka bertipe auditori mendengarkan guru atau teman nya bercerita adalah hal yang menyenangkan, memberikan kesempatan untuk berbicara di depan kelas atau menjelaskan kembali hal yang telah dipahaminya merupakan kegiatan yang dapat menjadi tantangan bagi peserta didik bertipe auditori tersebut. Lain halnya dengan peserta didik yang memiliki tipe belajar kinestetik, peserta didik yang memiliki tipe belajar seperti ini lebih menyukai aktivitas atau sebuah kegiatan dalam pembelajaran, seperti melakukan percobaan atau praktikum dengan menggunakan alat di laboratorium atau bermain peran.
Kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dapat guru lakukan dalam kegiatan inti pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat, dimulai dari pembukaan hingga tahap evaluasi. Pada tahapan pendahuluan guru dapat memberikan stimulus yang dapat merangsang keingintahuan peserta didik terhadap materi yang akan disampaikan, melakukan apersepsi dan motivasi yang harus selalu kita sampaikan kepada peserta didik agar peserta didik selalu bersemangat terhadap kegiatan pembelajaran, dalam kegiatan inti pembelajaran berdiferensiasi dapat kita lakukan dengan memberikan variasi dan juga kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan mengenali peserta didik dan mengelompokkan mereka sesuai dengan tipe belajar bukan kemampuan belajar mereka, dalam arti peserta didik yang pintar tidak akan dikelompokkan dengan yang pintar dan juga peserta didik yang lemah tidak dikelompokkan dengan peserta didik yang lemah juga, tetapi dikelompokkan sesuai dengan kecenderungan tipe belajar dan kebutuhan belajar peserta didik. Kegiatan yang bervariasi tersebut diharapkan dapat mengakomodasi peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar sesuai dengan minat yang mereka miliki. Bagaimana evaluasi yang harus dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ini? Tentunya dilakukan sesuai dengan kemampuan dan ketercapaian kompetensi yang mereka capai, guru tidak dapat mengevaluasi peserta didik yang lebih cepat memahami dengan yang kurang, karena mereka memiliki potensi yang berbeda pada bidang tertentu sehingga penilaian yang dilakukan juga harus mempertimbangkan kemampuan peserta didik tersebut.
Ada tiga kegiatan strategi diferensiasi yang dapat dilakukan.
Diferensiasi Konten
Diferensiasi konten merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari peserta didik berdasarkan kurikulum.
Diferensiasi Proses
Merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh peserta didik yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.
Diferensiasi Produk
Merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar peserta didik, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.
Tantangan
Agar dapat mengenal peserta didik dengan baik maka guru harus benar-benar mengenali dan memahami karakteristik peserta didik yang diajarnya. Memperhatikan dan menganalisis sikap, perilaku, dan tutur katanya. ketiga hal tersebut dapat memberikan gambaran secara jelas bagi guru akan karakteristik peserta didiknya. Untuk itu guru harus senantiasa menjaga komunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didik.
Guru yang baik adalah guru yang selalu mengenali dan mengevaluasi dirinya, sehingga nantinya bisa memahami dan mengevaluasi karakteristik peserta didik. Dua hal penting yang membentuk karakter seorang anak adalah lingkungan sekitar dan pengalaman yang dialami anak sebelumnya. Mengenali lebih dalam detail informasi yang berhubungan dengan pengalamannya dan hubungannya dengan karakternya. lakukan pendekatan psikologis, ajak anak berbincang mengenai hal-hal yang diinginkannya, apa yang menjadi permasalahannya dalam belajar dan memberikan solusi pemecahannya. Perlakukan peserta didik tanpa diskriminasi, memasuki dunia peserta didik ikut aktivitas kesehariannya. Ikut bergabung bersama peserta didik saat bernyanyi, bermain, atau aktivitas lain yang disukai. Aktivitas yang mengembangkan minat, bakat, dan potensinya.
Penutup/Simpulan (Seberapa Efektif?)
Antusiasnya peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dan serta rasa ingin tahu yang tinggi membuktikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi rekomendasi yang sangat positif dalam proses pembelajaran. Antusiasnya peserta didik ini dipicu dari proses pembelajaran yang menyenangkan dan menghargai potensi setiap peserta didik tanpa membeda-bedakan.
Rasa nyaman dalam pembelajaran karena peserta didik merasa diterima dan didukung setiap prosesnya dalam belajar. menghadirkan pribadi yang matang dan percaya diri atas potensi yang dimilikinya.
Referensi
Dewantara, K.H. (2009). Menuju Manusia Merdeka. Yogyakarta: Leutika
https://mastiahumiaisyabilal.wordpress.com/2018/11/09/konsep-dasar-pembelajaran-berdiferensiasi
Media, Kompas Cyber. "Terobosan Merdeka Belajar Nadiem Makarim, Ubah Sistem Zonasi hingga Hapus UN". KOMPAS.com. Diakses tanggal 05 April 2022 Pukul 12.49 WIB
Tomlinson (1986) dan Field (1995 ) dalam Onrizal (1980). The Botany of Mangrove. Cambridge University Press. UK