Cerpen Singkat: “Teh Nenek Teong”
“Ayo masuk, Nak… duduk dulu,” suara tua itu selalu terdengar hangat dari balik pintu kayu yang mulai lapuk.
Anak kecil itu tersenyum.
“Iya, Nek.”
Nenek itu berjalan pelan menuju dapur kecilnya. Suara sendok beradu dengan gelas terdengar lirih.
“Nenek buatkan teh ya.”
Anak kecil itu mengangguk. Ia sudah tahu teh seperti apa yang akan datang. Teh yang selalu sama. Air panas dan gula saja. Tanpa daun teh. Tanpa susu.
Sejak lama orang-orang di kampung memanggilnya Nenek Teong.
Namun bagi banyak orang, ia adalah sosok yang sangat dihargai. Meski hidup sederhana, kebaikan dan kemurahan hatinya selalu dikenang oleh siapa pun yang pernah singgah di rumah kecilnya.
Nenek datang membawa dua gelas.
“Nah, diminum ya, Nak,” katanya sambil meletakkan gelas di meja.
Anak kecil itu menatap gelas itu sebentar.
“Nek… ini teh ya?”
Nenek tersenyum kecil, wajahnya penuh keriput tetapi hangat.
“Iya… teh buatan nenek.”
“Tapi… kok warnanya bening?”
Nenek tertawa pelan.
“Daun tehnya sudah habis. Jadi nenek pakai yang ada saja.”
Anak kecil itu diam.
“Nenek cuma punya gula dan air… tapi nenek tetap mau kamu minum sesuatu kalau datang ke sini.”
Anak kecil itu menggenggam gelas itu erat-erat.
“Enak kok, Nek.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Nenek menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu anak baik.”
Hari-hari itu terus berulang.
Setiap kali anak kecil itu datang, nenek selalu berkata hal yang sama.
“Ayo masuk, Nak… nenek buatkan teh.”
Dan selalu gelas yang sama.
Air panas. Gula. Tanpa teh.
Suatu hari, anak kecil itu datang lagi ke rumah kecil di ujung kampung itu.
“Nek… aku datang.”
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu.
“Nek…?”
Tetangga di sebelah rumah keluar perlahan.
“Kamu cari nenekmu?”
“Iya… Nek Teong.”
Tetangga itu menarik napas panjang.
“Nenekmu sudah pergi, Nak.”
“Pergi ke mana?”
“Ke rumah keabadian.”
Anak kecil itu tidak mengerti.
“Ke rumah Tuhan… di surga.”
Anak kecil itu berdiri diam.
Matanya menatap pintu rumah kecil yang kini tertutup rapat.
“Kalau aku datang lagi… siapa yang buatkan teh untukku?”
Tetangga itu tidak menjawab.
Angin sore pelan berhembus melewati halaman rumah yang sunyi.
Dan sejak hari itu, orang-orang masih mengenang kebaikan seorang perempuan tua yang sangat sederhana.
Seorang nenek yang selalu menyuguhi tamunya “teh” meskipun ia tidak memiliki teh.
Orang-orang mengenalnya sebagai Nenek Teong.
Kini ia telah pergi ke rumah keabadian di surga, tetapi kebaikannya tetap hidup dalam kenangan.